Traveling with Baby – JAPAN!!! Day 1, Tokyo! (2)

Lanjutan cerita jalan-jalan sama bayi ke Jepang bulan April 2017, hari pertama di Jepang! Continue reading “Traveling with Baby – JAPAN!!! Day 1, Tokyo! (2)”

Advertisements

Speech Delay, Part 1

Pas anak gue 16 bulan, dia belum juga mengeluarkan kata-kata berarti. Cuma ‘mama’ dan itupun dia tujukan untuk semua hal; manggil orang, nunjuk sesuatu, minta sesuatu, dll. Akhirnya gue putuskan untuk kontrol ke DSA.

Gue ceritakan kondisi anak gue ke DSA: diperintah sudah paham, bisa mengutarakan keinginan dengan bahasa tubuh dan ‘ugh ugh’, sudah sekolah, susah makan. DSA menyarankan untuk ‘puasa’ TV dan gadget dulu, serta perbanyak interaksi dan komunikasi 2 arah dengan anak. DSA juga kasih surat rujukan untuk ke klinik tumbuh kembang. DSA bilang, boleh ditunggu sampai usia 18 bulan, dengan terus diajak interaksi dan komunikasi 2 arah.

Menurut gue, anak gue tidak terlalu terekspos TV dan gadget. Screen time nya sangat sedikit karena memang tidak gue biasakan. Tapi kalo gue kasih gadget, biasanya memang lagu bahasa inggris. Mengenai kondisi di rumah, sebenarnya sangat banyak orang yang mengajaknya interaksi 2 arah, ngobrol, bicara, cerita, menyanyi. Eyang dan mba yang jaga juga sebenernya cukup ‘bawel’. Jadi, gue masih gatau akar permasalahan kenapa anak gue belum juga bicara di usia 16 bulan.

Sampai 18 bulan, masih belum ada juga kata berarti yang keluar dari mulut kecilnya. Cuma nambah ‘kha kha’, ‘emaak’, ‘embaa’. Akhirnya gue putuskan untuk melakukan screening/assessment tumbuh kembang di Pela 9 (klinikpela9.com).

Ternyata untuk screening awal hanya bisa dilakukan di Pela 9 Kebayoran. Pela 9 Bintaro hanya untuk terapi. Gue daftar via telepon, disarankan bertemu Dr. Iramaswaty Kamarul, Sp.A(K), dan baru dapat giliran 3 minggu kemudian. Dalam 3 minggu menunggu itu, alhamdulillah, anak gue mulai mengeluarkan lebih banyak kata dalam bahasa planet nya. Mulai ngoceh-ngoceh ga berarti dan ga akan pernah gue mengerti :)) Dimulai dari bangun tidur tiba-tiba bilang “baba” dan diulang-ulang. Lalu mulai bisa menyebutkan kata terakhir dari satu kalimat, contohnya: bunda mau ker? “ja”, naik kere? “ta”, Aydan seko? “lah”, naik sepe? “da”, ayah naik mo? “to”, dst.

Tiba saatnya konsultasi ke klinik tumbuh kembang di Pela 9 Kebayoran. Ambil nomor jam 10, dapet nomer 1, dokter mulai praktek jam 2an, langsung dipanggil. Oiya sebelum masuk ke ruangan, ada 3 lembar kertas yang harus diisi, bagian dari assessment (ada bagian yang harus diisi orangtua, ada bagian yang diisi dokter dan psikolog). Isiannya kayak formulir tentang identitas bayi dan orangtua, proses melahirkan (normal/c-section, bayi langsung nangis/tidak, ada kelainan selama kehamilan/tidak), berat lahir, panjang lahir, kapan bisa tengkurep, merangkak, duduk, jalan, pertama senyum, babbling, banyak deh pertanyaannya 😀

Di ruangan praktek ada 2 orang, yang satu Dokter Anak (dr. Ira), yang satu lagi Psikolog (lupa namanya). Kita duduk hadap-hadapan (gue sama eyangnya dan mbaknya Aydan), dan Psikolog langsung mengeluarkan mainan (puzzle kayu dengan 4 bentuk – lingkaran, segitiga, kotak, persegi panjang) di taro di meja depan Aydan. Apa reaksi Aydan? Malu-malu, disuru ambil mainannya gamau :)) Kemampuan adaptasi Aydan kalau bertemu dengan orang baru di tempat baru memang agak kurang. Nanti di akhir gue kasitau kenapanya. Ternyata ada hubungannya dengan speech delay.

Setelah mainan pertama gagal, disuguhin mainan kedua (balok tabung kecil-kecil yang harus dimasukkin berdiri ke lobang-lobang), masih juga malu-malu duduk ga bergerak, tapi abis gue angkat terus gue taro mendekati mainan, dia mulai mau megang-megang mainannya, dan mulai mau masukin tabung-tabung kayu itu ke lobang-lobangnya. Sambil Aydan main, dokter dan psikolognya sambil wawancara gue, membuat catatan di kertas assessment, sembari merhatiin si anak main. Yang ditanyain seputar:

⁃ Udah bisa apa, dari usia berapa

Jalan dari berapa bulan? Udah bisa pake sedotan? Sedotan panjang? Udah bisa niup? Niupnya disembur ngga? Dst

⁃ Di rumah pakai berapa bahasa

Kalo gue, pakai 1 bahasa. Gue nanya, kalo dibacain surat-surat pendek, dibiasain denger azan, itu termasuk 2 bahasa ngga? Dijawab dokternya “bisa jadi, karena bisa bikin dia bingung, kok beda sama bahasa sehari-hari”. Tapi gue agak ragu sama jawabannya. Kan banyak anak hafiz karena dari kecil dibiasain denger Quran ya……

⁃ Suka nonton TV apa ngga

Gue jawab jarang banget. Kalaupun nonton yang ga ada ngobrolnya. Paling Upin Ipin sama Adit Sopo Jarwo. Ternyata malah dibalikin sama dokternya. Katanya, “TV itu bagus, bisa jadi edutainment, tapi dibatesin misal sehari sejam (pagi 30 menit, sore 30 menit). Gapapa kok, kasih liat yang banyak orang bercakap-cakap. Jadi dia tau, orang itu kalau berinteraksi harus ngomong. Kenapa jarang dikasih nonton?” Gue bilang disuru puasa TV dan gadget sama DSA nya. Trus dia nanya lagi, “Siapa DSA nya? Salah kaprah dia itu. Kalau gadget, memang sebaiknya tidak di berikan sebelum 6 tahun”.

⁃ Makannya gimana

Makannya susah, dilepeh atau langsung telen. Jarang mau kunyah kecuali kerupuk.

Mainan ketiga yang dikeluarin adalah mainan yang buat belajar mengenal kata buka/tutup. Ada yang harus dipencet, diputer, dicetek, digeser, buat buka kotak diatasnya yang berisi hewan. Sambil main, Dokternya bilang, “ayo coba buka”. Anak gue buka beberapa kotak. Terus dokternya bilang, “ayo sekarang tutup”. Tapi anak gue masih kekeuh buka terus :))

Abis itu psikolog kasih buku-buku bergambar (his most favorite thing-books!), sambil nanya, “udah bisa pointing belum?”. Gue bilang sudah. Terus dia kasih liat bukunya ke Aydan, sambil nanya-nanya (kucing yang mana sih? Kalau bola mana? Kalau gajah?). Dan seterusnya. Lumayan banyak yang ditanya. Alhamdulillah Aydan udah bisa nunjuk dengan benar di hampir semua yang ditanya. Mulai dari hewan, benda-benda sehari-hari, kegiatan (adek bayi lagi mandi yang mana sih? Kalo kakak naik sepeda yang mana? Kalo kakak lagi makan? Dst). Oiya, pas sampe halaman warna, mbaknya Aydan reflek nanya sambil nunjuk warna merah ‘Aydan, ini warna me?’ Terus dokternya langsung ngomong ‘Mba, mba tau ga kapan anak mulai mengerti warna? Belum saatnya sekarang, Mba. Hehehe’.

Ada beberapa buku yang ditunjukkin ke anak gue. Setiap selesai bertanya, psikolognya langsung ambil bukunya dan ganti buku baru. Padahal anak gue baru mau kepo dan baru mau eksplor isinya apa :)) Kesian mukanya ngarep tapi malah dikasi yang baru lagi.

Terakhir, dikasih kertas dan pensil warna. Dalem hati gue “yes ini kesukaan dia banget nih akhir-akhir ini, coret-coret! Pasti bisa nih”. Ehh doi malah pake malu-malu dulu :)) Tapi akhirnya mau coret-coret, dengan posisi tangannya pas megang pensilnya tinggi banget, dan jadi catetan dokter (entah apa maksudnya tapi, lupa nanya).

Hasil assessment nya menunjukkan kalau motorik kasar anak gue sudah bagus, pemahamannya pun sudah bagus, malah cenderung sudah seperti anak umur 2 tahun. Hanya saja ada keterlambatan bicara. Seharusnya di usia 18 bulan sudah ada 50 kata berarti yang terucap, jadi gap nya cukup jauh.

Nah, belum bisa bicara ini ternyata yang jadi faktor anak kurang nyaman kalau berada di tempat baru dan bertemu orang baru. Karena dia tau dia harus berinteraksi, tapi dia belum mampu. Jadi dia bereaksi menutup diri dengan menjauhi orang baru tersebut.

Gue nanya, ada hubungannya ngga, kalau makan langsung ditelan / dilepeh kalau ada yang keras sedikit, dengan speech delay? Ternyata ada. Karena kondisi mulutnya yang hiper sensitif, jadi dia ga suka ada sesuatu berlama-lama di mulut, maunya langsung lewat aja.

Aydan disarankan untuk ikut 2 terapi, terapi Wicara dan terapi Sensori Integrasi (SI). Sekarang, mamaknya galau. Mau diterusin terapi sesuai anjuran dokter, atau ditunggu aja. Toh, pada akhirnya nanti dia juga akan bicara kok :p

Jadwal dr. Ira di Pela 9 Kebayoran:

Rabu dan Kamis, mulai jam 14.30, dipanggil sesuai nomor urut (udah bisa diambil dari jam 10).

Untuk screening awal biayanya 780ribu (per bulan Desember 2017).

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑