ASI · Baby Story

Cerita ASI – Part 1

Tujuan saya nulis ini adalah untuk berbagi pengalaman. Bukan untuk sombong. Saya percaya setiap Ibu punya kisah uniknya masing-masing dalam perjuangannya memberikan ASI, dan inilah kisah saya. Saya tuliskan untuk sharing. Saya tuliskan untuk saya juga belajar. Mudah-mudahan bermanfaat, dan bisa jadi semangat πŸ™‚

Cerita ASI pertama, mau sharing tentang betapa pentingnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sesaat setelah melahirkan, dan rooming in (Ibu dan Bayi berada di satu ruangan yang sama setelah Ibu melahirkan). Apasih IMD itu? Sesaat setelah bayi lahir, bayi diletakkan di dada Ibu untuk dirangsang mencari puting Ibu, dan kalau bisa sampai menghisap puting dan mendapatkan ASI tetesan pertama. Inilah yang dinamakan proses IMD. Di tahap ini, bayi belajar untuk mencari sumber makanan, sementara Ibu dirangsang untuk mengeluarkan ASI. Jujur, saat IMD ini adalah momen paling indah yang pernah saya rasakan seumur hidup saya. Melihat bayi yang baru saja keluar dari rahim kita, yang selama 9 bulan dengan aktifnya menendang dan memukul perut kita dari dalam, sekarang ada di depan mata, ada di atas dada kita, dengan jarak yang sangat dekat. Sungguh saat itu saya sangat sangat sangat bahagia. Mungkin saat itu pula hormon oksitosin memenuhi tubuh saya dan membantu tubuh saya untuk memproduksi ASI dengan segera. Walaupun di pengalaman saya, bayi tidak sampai menghisap puting (karena sudah terlalu lama diletakkan di dada saya dan bayi mulai kedinginan-hampir 1 jam), namun bayi sudah mengeluarkan liur (yang saat itu menurut suster sudah bisa dikatakan berhasil IMD-nya).

Setelah IMD, Ibu dan Bayi kembali ke kamar. Ada baiknya mereka tidak dipisahkan (rooming in). Bayi berada satu ruangan dengan Ibu (tidak di ruang bayi). Kenapa? Berdasarkan pengalaman saya yang baru melahirkan satu kali dan belum ada pengalaman apa-apa, saat baru sampai kamar, bayi diletakkan di crib nya dan ditaruh di sebelah kasur saya. Saya masih amazed dengan kehadirannya dan tak henti memandanginya. Saat suster meninggalkan ruangan dan saya sedang memandangi bayi, tiba-tiba saya terpikir untuk menyusuinya (mungkin ini adalah insting alami seorang Ibu, karena saat itu belum ada yang menyuruh saya untuk menyusui). Langsung saya panggil suami dan minta tolong untuk meletakkan bayi di gendongan saya (karena saya masih lelah setelah melahirkan, belum makan seharian, dan masih nyeri-nyeri sekujur badan hehe).

“Kenapa?” Tanya suami.

“Mau coba netek-in :D” jawab saya.

Suami yang saat itu sudah mau tidur (karena juga belum tidur semalaman), langsung mengambil bayi dan menaruh bayi ke gendongan saya. Alhamdulillah, ini juga jadi satu momen yang akan selalu saya kenang, anak saya yang sedang tertidur kala itu, saat saya dekatkan mulutnya ke puting saya, langsung menghisap dengan lahapnya πŸ™‚ Mulut mungilnya belajar menyusu langsung dari payudara Ibunya. Dengan bekal pelajaran dari klinik laktasi, saya bantu buka mulutnya lebar-lebar agar bisa pas hisapannya.

Inilah mengapa rooming in penting. Ibu bisa menyusui bayinya kapanpun ia mau. Bayipun bisa langsung disusui kapanpun ia minta. Dan semakin sering proses menyusu langsung ini dilakukan, semakin terangsang produksi ASI dalam tubuh Ibu.

Esok paginya saat kunjungan dokter (saya baru tidur 15 menit, keasyikan menyusui dan memandangi si bayi kecil hihi), saya di tes menyusui. Dokter mau lihat apakah sudah benar posisi dan teknik menyusuinya.

Dokter: Gimana Bu? Sudah keluar ASI nya?

Saya: Semalam saya coba nyusuin, dia mau menghisap Dok. Tapi saya kurang tau apakah ada ASI yang keluar dan dia hisap hehe.

Dokter: Alhamdulillah, pinter ya Ibunya, belum diajarin udah nyoba sendiri.

Saya: *senyam senyum*

Dokter: Yuk coba netek-in, saya liat yaa tekniknya.

Saya: *netek-in sambil inget-inget latihan di klinik laktasi*

Suster: Anak kedua ya Bu?

Saya: Hah? Pertama kok sus.

Suster: Masa? Kok udah jago banget nyusuinnya!

Saya: *senyam senyum* <dalem hati: baru juga nyoba sekali :p>

Dokter: Iya nih, udah jago. Udah bener posisinya. Dedeknya juga pinter hisapannya. Ini kalau begini, udah keluar kok ASI nya. Kalo kamu kasih tisu, warnanya kuning. Ini kolostrum.

Saya: Alhamdulillah…..

Saya sangat bersyukur, bayi saya mendapat kolostrum (ASI pertama, berwarna kuning, dan sangat bagus untuk bayi karena kandungannya sangat bagus, terutama untuk daya tahan tubuh bayi yang masih sangat rentan).

Saya teruskan menyusui setiap bayi menangis. Kadang 1 jam sekali, kadang 2 jam sekali, kadang harus diingatkan eyangnya karena saya suka males dan lupa kapan terakhir dia menyusu :p Maklum, saya orangnya cuek banget……. dan bayi baru lahir kan kebanyakan tidur, harus ibunya yang inisiatif menjadwalkan pemberian ASI.

Sampai malam kedua di RS setelah melahirkan, saat sedang asik menyusui, tiba-tiba si bayi tersedak dan mengeluarkan ASI dari hidung dan mulut (lumayan banyak). Saya panik, kaget, dan langsung minta suami panggilin suster jaga. Setelah ditelaah, ternyata bayi tersedak karena ASI saya banyak. Bingung dan senang dan panik disaat bersamaan. Mungkin si bayi menghisap terlalu semangat… Setelah bayi ditenangkan, saya coba menyusui lagi pelan-pelan (takut tersedak lagi). Alhamdulillah menyusui lancar lagi πŸ™‚ Dan setelah di cek, ternyata ASI yang keluar sudah berwarna putih bening seperti susu.

Awal-awal menyusui ini, saya suka merasa insecure (eh, apa ya bahasa tepatnya). Pokoknya setiap lagi menyusui, saya suka merasa kalau payudara saya tidak mengeluarkan ASI (padahal bayinya menyusu dengan lahap dan terdengar bunyi ‘cegluk cegluk’ setiap bayi menelan). Jadi, sering sekali saat sedang menyusui, saya lepas mulut bayi dari payudara saya, dan saya pencet payudara saya untuk memastikan ada ASI yang keluar (jangan ditiru ya :p).

Selama perawatan di RS (Kemang Medical Care – KMC), saya tidak pernah melakukan pompa ASI. Dokter pun tidak pernah menyuruh dan tidak mengajarkan. Sepertinya karena KMC sangatlah Pro ASI. Saya juga tidak pernah ditawarkan untuk pemberian susu formula. Tidak pernah juga ditawarkan pemakaian dot. Malah sangat dilarang. Menyusui langsung untuk menciptakan bonding ibu-bayi lah yang sangat diutamakan KMC setelah melahirkan.

Kunjungan dokter laktasi berikutnya menanyakan kembali tentang kondisi ASI dan hisapan bayi. Setelah dilihat, ternyata bayi saya tongue-tie. Diputuskan untuk di insisi saat itu juga. Sempat takut dan bingung, namun karena sudah dibekali ilmu dari klinik laktasi saat masih hamil, dan sudah dapat restu dari eyang-eyangnya, diputuskan untuk di insisi. Proses insisi tongue-tie sangat cepat. Tidak sampai semenit. Dokter hanya membius lokal di bagian bawah lidah, lalu menggunting jaringan di bawah lidah, selesai.

Sepulang dari RS, sampai di rumah, payudara saya bengkak! Keras sekali seperti batu. Teringat pesan dari suster di RS sebelum pulang, kalau bengkak, coba di kompres air hangat. Saat di kompres, ASI nya netes-netes. Lebih serunya lagi, saya belum belajar tentang pompa ASI, teknik penyimpanan ASI, dan cara memerah ASI. Karena belum belajar dan belum tau, saya belum mempersiapkan botol kaca untuk menyimpan ASI, apalagi freezer ASI (jangan ditiru :p). Alhamdulillah nya, saya sudah dapat pinjaman pompa ASI. Tapiii saat itu belum belajar cara steril peralatannya (kurang persiapan bangetlah intinya). Setelah grasak-grusuk beli botol kaca dan steril pompa seadanya, akhirnya saya melakukan pumping ASI pertama kali di rumah setelah baru pulang dari RS. Alhamdulillah, pompa pertama dapet 90ml. Warnanya masih kuning πŸ˜€


Pompa kedua, esok paginya, dapet 130ml. Pompa selanjutnya dapet 160ml. Di hari ketiga setelah pulang dari RS, saat bangun tidur kasur saya basah karena ASI merembes (padahal sudah pakai breast pad). Di awal ini, saya masih kurang info tentang dunia ASI dan perah memerahnya. Jadi pas awal ini saya hanya pompa sehari sekali, atau kalau sudah tidak kuat menahan payudara yang bengkak (yang katanya kalau didiamkan bisa bikin ibu demam). Padahal, di awal ini adalah saat terbaik untuk nabung ASIP… jadi agak menyesal malas belajar dunia per-ASIP-an pas hamil dulu hehe. Yang saya tau saat itu hanya: kalau ibu menyusui bekerja, butuh punya cooler bag, ice gel, dan pompa. Saya belum paham botol kaca atau plastik penyimpanan ASI, belum tau butuh sewa freezer atau tidak :p

Barulah setelah itu saya googling, belajar ASI. Belajar jadwal pompa. Belajar merah. Belajar nyimpen ASIP yang baik dan benar biar tahan lama. Belajar cuci steril pompa. Cari tau seberapa penting sewa freezer, mending sewa atau beli. Cari dan beli botol kaca murah (karena pas grasak grusuk di awal, belinya BKA 3 dus, kan harganya lumayan :p).

Setelah informasi cukup, saya langsung memutuskan untuk beli freezer dan botol kaca 72 buah. Dan baru mulai serius menabung ASIP untuk persiapan kembali ke kantor apabila cuti sudah habis.

Sekian pengalaman pertama saya di dunia ASI. Masih banyak kisah ASI yang bakal saya share lho! So, stay tune! πŸ˜‰

Advertisements

9 thoughts on “Cerita ASI – Part 1

    1. Iyaa medela swing. Kenapa elektrik? Karena dapet pinjemannya itu :p tapi setelah make, baru kerasa enaknya pas di kantor. Kalo elektrik, otomatis tangan bebas kan. Nah, tangan bebas ini gue pake buat merah PD satu lagi pake tangan. Jadi ga ngabisin waktu lama buat pumping hehehe. Kalo di rumah, kalo pake elektrik tangannya jd bebas bisa sambil baca buku atau main hape πŸ™‚
      temen kantor yg pake manual sih gada yang bermasalah ya, mereka nyaman aja, ga pegel banget juga kok tangannya, dan yang pasti harganya manual jauh lebih hemat daripada elektrik πŸ˜€

      1. Kalo pinjem / beli secondhand gt kita perlu ada yg dibeli sparepartnya ga sih kak? (Misal selang botol dll). Atau kak cabe cukup di sterilisisai aja? Makasih ya bun *kayak di forum2

      2. Kalo gue beli (ga beli sih, minta dikadoin wkwk) semua sparepart baru (botol, corong, valve, selang, membrane). Soalnya kan yg lama udah bekas orang ya, mau di steril juga agak gimana gitu mom :p jadi mesinnya aja yang ga beli baru :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s